Pengikut

manjadda wajada

dari yakinku teguh hati ikhlasq penuh akan karuniamu tanah air pusaka indonesia merdeka syukur aku sembahkan kehadiratmu Tuhan...

AQ

AQ
DEWE
RSS

Jumat, 18 Juni 2010

PROPOSAL PENELITIAN
ANALISIS VEGETASI POHON
PADA BEBERAPA TAMAN KOTA DI KABUPATEN LAMONGAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Metodologi Penelitian
Jurusan Biologi Fakultas sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

Oleh :

MOH. ZAINUL AMIN
NIM : 08620005

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
Pengamatan parameter vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti Taman Kota, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984).
Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut.
Kondisi habitat pun akan terancam oleh pemanfaatan yang dilakukan secara tidak bijak dan lestari, baik melalui kegiatan pariwisata maupun ekstraksi langsung oleh masyarakat sekitar kawasan. Selain itu adanya habitat transisi dan jenis introduksi yang berbahaya berpotensi mengubah kondisi habitat itu sendiri, yang pada akhirnya akan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Luas ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Lamongan setiap tahun semakin berkurang, hal tersebut disebabkan terjadinya perubahan fungsi yang semula berupa lahan terbuka menjadi terbangun untuk berbagai keperluan seperti perumahan, pertokoan, kantor, dan lain-lain. Semakin sempitnya RTH, khususnya taman dapat menimbulkan munculnya kerawanan dan penyakit sosial sifat individualistik dan ketidakpedulian terhadap lingkungan yang sering ditemukan di masyarakat perkotaan. Disamping ini semakin terbatasnya RTH juga berpengaruh terhadap peningkatan iklim mikro, pencemaran udara, banjir dan berbagai dampak negatif lingkungan lainnya.
Monitoring yang berkelanjutan sangat penting untuk dilakukan untuk memastikan ketergaan kawasan dan segala isinya sebagai warisan dunia bagi umat manusia di masa mendatang. Selain itu diharapkan dari hasil survey maupun monitoring akan didapat informasi bagi aspek pengelolaan kawasan yang lebih baik lagi dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan secara lestari.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1.Bagaimanakah cara mengetahui vegetasi yang dominan pada beberapa Taman Kota di kabupaten Lamongan ?
2.Apakah ada hubungan antara komposisi jenis vegetasi penyusun pada beberapa Taman Kota dengan luas lahan ruang terbuka hijau di kabupaten Lamongan
3.Apakah ada hubungan antara strategi pola penghijauan dengan permasalahan ruang terbuka hijau di kota Lamongan

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian kali ini adalah untuk :
1.Untuk mengetahui jenis vegetasi yang dominan pada beberapa Taman Kota di kabupaten Lamongan.
2.Untuk mengetahui hubungan komposisi jenis vegetasi penyusun pada beberapa Taman Kota dengan luas lahan ruang terbuka hijau saat ini di kabupaten Lamongan.
3.Untuk dapat menganalisis hubungan strategi pola penghijauan dengan permasalahan ruang terbuka hijau di kota Lamongan.
D. Hipotesis Penelitian
1.Ada hubungan antara komposisi jenis vegetasi penyusun pada beberapa Taman Kota dengan luas lahan ruang terbuka hijau di Kabupaten Lamongan.
2.Ada hubungan antara strategi pola penghijauan dengan permasalahan ruang terbuka hijau di Kota Lamongan.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat pada beberapa pihak antara lain :
1.Bagi intansi Kesehatan
Sebagai masukan atau bahan pertimbangan kepada pengelola progam pemeliharaan pemikiran masyarakat supaya tidak mudah terserang penyakit.
2.Bagi Pemerintah
Dapat memberikan informasi penting tentang kondisi dan permasalahan RTH taman kota bagi para pengambil keputusan khususnya dinas dan instansi terkait untuk menjadi bahan bagi pengelolaannya.
3.Bagi masyarakat
Sebagai sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan dalam upaya peningkatan pengetahuan tentang kesehatan dan keindahan.
4.Bagi mahasiswa
Menambah wawasan dan pengalaman bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang penulis peroleh dibangku kuliah.

F. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup materi dalam penelitian ini dibatasi pada pembahasan mengenai Pola penyebaran taman-taman di Kota Lamongan yang tidak terpusat, konversi taman menjadi tata guna lain, luas taman yang tidak seragam dan ketidakjelasan jumlah taman di Kota Lamongan serta ketidakjelasan jenis vegetasi yang ada dalam taman merupakan hal-hal pokok yang perlu dikaji lebih mendalam.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Analisa Vegetasi
Analisa vegetasi secara garis besar adalah mempelajari komunitas tumbuhan , yang mencakup identifikasi species, bentuk pertumbuhan species (Mueller‐Dombois dan Ellenberg, 1974). Sedangkan khusus synekologi atau ekologi komunitas tumbuhan dikenal sebagai phytososiologi atau sosiologi tumbuhan (Made Sedhana, 1982). Analisis vegetasi adalah suatu analisis yang bertujuan untuk mempelajari karakter suatu komunitas (Anonymous,1985).

B. Peranan Analisis Vegetasi
Analisa pada berbagai sifat terdiri dari jenis yang kualitatif dan yang kuantitatif. Jenis yang kualitatif berifat memerikan karena kesulitan untuk mengukurnya, meskipun kebanyakan data kualitatif itu dapat ditentukan kuantitasnya kemudian, tetapi jenis yang kuantitatif adalah corak yang dapat diukurdengan mudah (Rohman, 2001).
Prinsif penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agr individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanfa duplikasi atau pengabaian. Karena titk berat analisa vegetasi terletak pada komposisi komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva Spesies Are (KSA).
Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : 1. Luas minimum suatu petak yang dapat mewaskili habitat yang akan diukur, 2. Jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur. Apabila ditinjau dari proses alam, sesungguhnya ekologi telah dikenal oleh manusia sejak lama sesuai dengan peradaban manusia. Manusia, seperti halnya makhluk-makhluk hidup lainnya selslu berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi antara manusia dengan lingkungannya, demikiaan juga antara setiap organism dengan lingkungannya merupakan proses yang tidak sederhana melainkan suatu proses yang kompleks, karena di dalam lingkungan hidup terdapat banyak komponen yang disebut komponen lingkungan (Soemarwoto,1983).
Berdasarkan konsep dasar pengetahuan ekologi, komponen lingkungan yang dimaksud tersebut juga dinamakan komponen ekologi karena setiap komponen lingkungan tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan dan saling mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung (Odum,1993).
Manusia, hewan, dan tumbuhan dalam mempertahankan hidupnya memerlukan komponen lain yang terdapat di lingkungannya. Udara sangat mereka perlukan untuk bernafas, air untuk minum, untuk keperluan rumah tangga, dan kebutuhan lainnya. Tumbuhan dan hewan diperlukan manusia sebagai sumber makanan, tumbuhan juga menjadi makanan hewan, bahkan ada juga hewan yang menjadi makanan hewan lainnya. Oksigen yang kita hirup dari udara dalam pernafasan kita, sebagian besar berasal dari tumbuhan yang melakukan proses fotosintesis. Sebaliknya, gas karbondioksida yang kita hasilkan dari pernafasan digunakan tumbuhan untuk proses fotosintesis. Proses fotosintesisyang terjadi pada tumbuhan, selain memanfaatkan gas karebondioksida juga memerlukan energy dari radiasi matahari, memerlukan air, dan zat-zat hara dari dalam tanah. Bahan-bahan itu semua diperlukan tumbuhan untuk proses tumbuh, berkembang, dan regenerasi (Odum,1993).
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari huhungan timbale balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Elokogi adalh ilmu pengetahuan mengenai hubungan antara organism dengan lingkungannya. Dapat juga di definisikan bahwa ekologi adalah ilmu yang mempelajari pengaruh factor lingkungan terhadap makhluk hidup (Soerianegara dan indrawan, 1982; Resosoedarmo dkk,1986).
Istilah habitat dapat juga dipakai untuk menunjukkan tempat tumbuh sekelompok organisme dari beberapa spesies yang membentuk suatu komunitas. Sebagai contoh untuk menyebut tempat hidup suatu padang rumput dapat menggunakan habitat padang rumput, untuk Taman Kota mangrove dapat menggunakan istilah habitat Taman Kota mangrove, untuk Taman Kota pantai dapat dapat menggunakan habitat Taman Kota pantai, untuk Taman Kota rawa dapat menggunakan habitat Taman Kota rawa, dan lain sebagainya. Dalam hal seperti ini, maka habitat sekelompok organisme mencangkup organisme lain yang merupakan komponen lingkungan (komponen lingkungan biotik) dan komponen lingkungan abiotik ( Resosoedarmo dkk.,1986 ).
Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari susunan atau komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Dalam ekologi Taman Kota, satuan vegetasi yang di pelajari atau di selidiki berupa komunitas tumbuhan yang merupakan asosiasi konkret dari semua spesies tumbuhan yang menempati suatu habitat. Oleh karena itu tujuan yang ingin dicapai dalam analisis komunitas adalah untuk mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas pada suatu wilayah yang dipelajari (Indriyanto, 2005).
Pengambilan contoh untuk analisis metode petak (plot), metode jalur, ataupun metode kuadran ( Soegiarto,1994; Gopal dan Bhardwaj,1979; Kusmana, 1997) :
1.Metode Petak
Metode petak merupakan prosedur yang paling umum di gunakan untuk pengambilan contoh berbagai tipe organisme termasuk komunitas tumbuhan. Petak yang digunakan dapat berbentuk segi empat, persegi, atau lingkaran. Di samping itu, untuk kepentingan analjsis komunitas tumbuhan dapat digunakan petak tunggal atau petak ganda.
2.Metode Jalur
Metode jalur merupakan metode yang paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut kondisi tanah, topografi dan elevasi. Jalur-jalur contoh dibuat memotong garis kontur (garis tinggi/garis topografi) dan sejajar satu dengan yang lainnya. Pendekatan, cara itu untuk aplikasi di lapangan misalnya jalur-jalur contoh dibuat tegak lurus garis pantai, memotong sungai, atau naik/turun lereng gunung. Jumlah jalur contoh di sesuaikan dengan intensitas samplingnya. Jalur contoh yang berukuran lebar 20 m dapat dibuat dengan intensitas sampling 2%-10% ( Soerianegara dan Indrawan,1982 ).
3.Metode Garis Berpetak
Metode ini dianggap sebagai modifikasi dari metode petak ganda atau metode jalur, yaitu dengan cara melompati satu atau lebih petak-petak dalam jalur, sehingga sepanjang garis rintis terdapat petak-petak pada jarak tertentu yang sama. Semua parameter kuantitatif dapat dihitung menggunakan rumus-rumus seperti yang telah diuraikan diatas, dan cara penghitungan semua parameter kuantitatif sama dengan cara pada petak ganda maupun pada cara jalur.
4.Metode Kombinasi
Metode kombinasi yang dimaksudkan adalah kombinasi antara metode jalur dan garis berpetak. Di dalam metod tersebut, risalah pohon dilakukan dengan metode jalur, yaitu pada jalur-jalur yang lebarnya 20 m sedangkan untuk fase pemudaan ( fase poles, sapling, dan sleedling ), serta tumbuhan bawah digunakan metode garis berpetak.
5.Metode Kuadran
Metode kuadran umumnya dipergunakan untuk pengambilan contoh vegetasi tumbuhan jika hanya vegetasi fase pohon yang menjadi obyek kajiannya. Metode ini mudah dikerjakan dan lebih cepat jika akan dipergunakan untuk mengetahui komposisis jenis, tingkat dominasi, dan menaksir volume pohon. Syarat penerapan metode kuadran adalah distribusi pohon yang akan diteliti harus acak. Dengan kata lain, bahwa metode ini kurang tepat dipergunakan jika populasi pohon berdistribusi mengelompok ataupun seragam (Soegiarto,1994).
Metode kuadran atau metode titik pusat kuadran merupakan metode sampling tanpa petak contoh yang dapat dilakuakn secara efisien karena dalam pelaksanaanya di lapangan tidak memerlukan waktu lama dan mudah dikerjakan (Kusmana, 1997 ).
Dalam meode kuadran, pada setiap titik pengukuran dibuat garis absis dan ordinat khayalan, sehingga pada setiap titik pengukuran terdapat empat buah kuadan. Pilih satu pohon di setiap kuadran yang letaknya paling dekat dengan titik pengukuran dan ukur jarak dari masing-masing pohon ke titik pengukuran. Perlu diperhatikan bahwa pengukuran dimensi pohon hanya dilakukan terhadap keempat pohon yang terpilih pada tiap-tiap kuadran (Arrijani, 2006).

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Pengamatan
Percobaan Analisis Vegetasi dilaksanakan pada bulan Oktober 2010 di beberapa Taman Kota di Kabupaten Lamongan Jawa Timur.

B. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan dalam kegiatan ini adalah :
1.Sabit 1 Buah
2.Tali rafia 1 Gulung
3.Meteran 3 Buah
4.Alat tulis menulis 2 Buah
5.Kompas 1 Buah
6.Kayu Patok 12 Buah

C. Metode Pengamatan
Pengambilan petak contoh dilakukan dengan metode Kurva Spesies Area yaitu dengan mendaftar jenis vegetasi yang terdapat pada suatu petak kecil. Ukuran petak ini kemudian diperbesar dua kali dan jenis vegetasi yang terdapat di daftar pula. Pekerjaan ini dilanjutkan sampai saat dimana penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih dari 10 % atau 5 % (Soerianegara dan Indrawan, 1982).
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei/sigi. Sigi lapangan yang akan dilaksanakan meliputi sensus terhadap seluruh taman yang tersebar di Kota Lamongan. Penentuan jumlah dan populasi sampel taman dilakukan dengan cara sensus, artinya seluruh taman kota yang tersebar di Kota Lamongan akan diukur (sensus) secara satu persatu, lamanya waktu pengukuran diperkirakan 20 hari yang dilakukan secara pararel (dalam satu hari dilakukan pengukuran taman dilima bagian Kota Lamongan yang meliputi Lamongan Selatan, Lamongan Barat, Lamongan Timur, Lamongan Utara dan Lamongan Tengah. Pada setiap pengukuran didasarkan kepada lembar kerja yang meliputi catatan tentang : kondisi taman, jenis vegetasi dalam taman, proporsi antara ruang terbuka hijau dengan ruang terbuka pada setiap taman, dan fungsi taman.
Selain pengukuran langsung (observasi) selama sigi dilakukan juga wawancara dengan pihak pengelola taman dan pengumpulan data sekunder yang berkaitan erat dengan kegiatan penelitian.

D. Analisa Vegetasi
Untuk mengetahui besaran nilai penting suatu jenis dihitung besaran :
Kerapatan = Jumlah individu suatu jenis
Luas petak ukur

Kerapatan relative (%) = Kerapatan suatu jenis x 100
Kerapatan seluruh jenis

Frekuensi = Jumlah sub petak ditemukannya suatu jenis
Jumlah seluruh sub petak pengamatan

Frekuensi relatif (%) = Frekuensi suatu jenis x 100
Frekuensi seluruh jenis

Dominansi = Jumlah LB dasar suatu jenis ( Luas Penutupan)
Luas areal sampel

Dominansi relative (%) = Dominansi suatu jenis x 100
Dominansi seluruh jenis

Nilai penting = Kerapatan relatif + Dominansi relatif + Frekuensi relatif
E. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah pada lokasi taman-taman kota yang tersebar di seluruh Kota Lamongan berdasarkan data yang dimiliki oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Lamongan serta informasi lain mengenai keberadaan taman kota yang belum teridentifikasi.

F. Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu:
1. Variabel Bebas
Variabel bebas adalah variabel berpengaruh atau yang menyebabkan berubahnya nilai dari variabel terikat. Sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah kondisi Hutan kota yang meliputi dominasi vegetasi tanaman, komposisi vegetasi tanaman dan pola penghijauan yang dilakukan di hutan kota. Serta kondisi lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman pada Hutan kota.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang diduga nilainya akan berubah karena adanya pengaruh dari variabel bebas. Sebagai variabel terikat dalam penelitian ini adalah Luas Ruang terbuka Hijau di Kabupaten Lamongan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2010. Deteksi Estrus. http://jogjavet.wordpress.com /2008/03/18/ Vegetasi tanaman/diakses pada 07 Juni 2010. Jam 23.00 WIB.
Arrijani, dkk.2006. Analisis Vegetasi Hulu DAS Cianjur Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Cianjur : Pustaka Ilalang.
Indriyanto. 2005. Ekologi Taman Kota. Bandar Lampung : Bumi Aksara.
Kusmana, C.1997. Ekologi dan Sumber Daya Ekosistem Mangrove. Bogor : Jurusan Manajemen Taman Kota Fakultas KeTaman Kotaan IPB.
Odum, E. HLM.1993. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono Samingan dari buku Findamentals of Ecology. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Resosoedarmo, S., K. Kartawinata, dan A. Soegiarto. 1986. Pengantar Ekologi. Bandung : Remadja Rosda Karya.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA.
Setiadi, D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Taman Kota Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat. Bogor: Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB.
Soegiarto, A. 1994. Ekologi Kuantitatif: Metode Analisis Populasi dan Komunitas. Jakarta : Usaha Nasional.
Soemarwoto,O. 1983. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta : Djambatan.
Soerianegara, I.dan A. Indrawan. 1982. Ekologi Taman Kota Indonesia. Bogor : Departemen Manajemen Taman Kota Fakultas KeTaman Kotaan IPB.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung : ITB Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar