Pengikut

manjadda wajada

dari yakinku teguh hati ikhlasq penuh akan karuniamu tanah air pusaka indonesia merdeka syukur aku sembahkan kehadiratmu Tuhan...

AQ

AQ
DEWE

GAMBAR

Loading...
RSS

Rabu, 21 Desember 2011

ETNOBOTANI TANAMAN PANDAN SAMAK ATAU PANDAN DURI (Pandanus tectorius) DI DESA DUMPIAGUNG KECAMATAN KEMBANGBAHU KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR

LAPORAN
PENELITIAN ETNOBOTANI

ETNOBOTANI TANAMAN PANDAN SAMAK ATAU PANDAN DURI (Pandanus tectorius) DI DESA DUMPIAGUNG KECAMATAN KEMBANGBAHU KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Etnobotani

Dosen Pembina :
Dr. Eko Budi Minarno. M.Pd

Disusun oleh:
Nama : Moh. Zainul Amin
NIM : 08620005



















JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2011

KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami mengucapkan puji syukur yang sebesar-besarnya Kepada Allah SWT atas selesainya Laporan Penelitian Etnobotani Tanaman Pandan Samak Atau Pandan Duri (Pandanus Tectorius) Di Desa Dumpiagung Kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian awal untuk memenuhi tugas perkuliahan, yang diharapkan dapat membantu sekaligus menarik perhatian bagi siapapun terutama peneliti untuk melakukan penelitian lebih mendalam tentang Manfaat dari pandanaceae.
Alam sudah menyediakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh penghuninya untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Sebagai salah satu unsur penghuni alam itu manusia diketahui paling mudah menyesuaikan diri dengan alam lingkungannya daripada makhluk lain. Kemampuan ini terutama disebabkan karena manusia mempunyai daya cipta, rasa dan karsa sehingga manusia mampu berkarya untuk memudahkan pengadaptasian dirinya.
Semua ini tidak terlepas dari bantuan semua pihak, oleh karena itu penulis memberikan ucapan terima kasih kepada Bapak Dr. Eko Budi Minarno. M.Pd sebagai dosen pengampu Mata Kuliah etnobotani yang telah membantu memotifasi dan memberikan kemudahan fasilitas untuk menyelesaikan laporan ini serta semua teman-teman yang telah memotivasi hingga terselesainya laporan ini.
Dengan segala kerendahan hati, penyusun menyadari bahwasanya masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan laporan ini yang dikarenakan oleh keterbatasan waktu dan lain hal. Oleh karena itu, semua saran dan kritik yang bersifat konstruksional sangat saya harapkan dalam kesempurnaan dan sebagai tolak ukur perbaikan dimasa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat, informasi serta memperluas hasanah pengetahuan dan wawasan bagi para mahasiswa khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya.
Penyusun,
Malang, 20 Juni 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alam Indonesia cukup banyak tersedia keanekaragaman tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri kerajinan, antara lain anyaman. Untuk menghasilkan produk anyaman dari bahan tumbuhan diperlukan pengetahuan dan pengalaman dalam mengenal tumbuhan yang memiliki serat yang panjang dan kuat. Salah satu ragam tumbuhan yang memenuhi kedua persyaratan tersebut adalah pandan, yaitu salah satu anggota suku pandan-pandanan (Pandanaceae), terutama dari marga Pandanus.
Tumbuhan yang dikenal sebagai pandan jarang diteliti tapi sering dimanfaatkan. Anggota dari familia ini mempunyai lebih dari 40 jenis yang dapat dimanfaatkan, baik sebagai tanaman hias, sebagai bahan pangan, pewangi, sebagai bahan bangunan dan bahan industri seperti tikar, tas, mebel dan atap rumah (Lemmens, 1998). Menurut Sudardadi (1996), daun pandan dipergunakan sebagai sumber serat untuk berbagai kerajinan anyaman.
Seiring perkembangan budaya, baik tradisional maupun bioteknologi, penggunaan bahan pandan, seperti dapat dijumpai baik dimasyarakat, pasar tradisional, mengalami pergeseran yang digantikan oleh bahan lain, seperti tali oleh plastik, topi dari bahan kain, bambu, rotan dan bahanbahan lainnya. Terjadinya pergeseran ini dapat menyebabkan percepatan hilangnya pengetahuan tentang pemanfaatan serta diversitas jenis-jenis pandan.
Menurut Stringer, dkk (2001), bahan alami mempunyai efek negatif yang lebih kecil dari pada bahan sintetik, contohnya plastik. Hasil penelitian menunjukkan bukti efek toksik additive yang digunakan pada plastik PVC. Menurut Wongso, (2006), trend yang berkembang di negara maju saat ini adalah kembali ke alam (memakai bahan-bahan natural).
Oleh karena itu, penelitian kajian etnobotani ini untuk mendeskripsikan pengetahuan masyarakat terhadap jenis pandan dan pemanfaatannya (sebagai kerajinan).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkn latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengetahuan Masyarakat di desa Dumpiagung tentang tanaman jenis pandan (Pandanaceae) ?
2. Apa manfaat pandan bagi kehidupan Masyarakat di desa Dumpiagung ?
3. Bagian apa dari tanaman Pandan yang dapat di gunakan oleh masyarakat di desa Dumpiagung ?
4. Bagaimana cara pemanfaatan pandan oleh masyarakat di desa Dumpiagung ?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian etnobotani yang kami lakukan di desa Dumpiagung Kecamatan Kembangbahu Lamongan adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana pengetahuan Masyarakat di desa Dumpiagung tentang tanaman jenis pandan (Pandanaceae)
2. Untuk mengetahui manfaat pandan bagi kehidupan Masyarakat di desa Dumpiagung
3. Untuk mengetahui Bagian apa dari Pandan yang dapat di gunakan oleh masyarakat di desa Dumpiagung
4. Untuk mengetahui cara pemanfaatan pandan oleh masyarakat di desa Dumpiagung

2.2 Manfaat Penelitian
Hasil dari kajian etnobotani dan penentuan jenis pandan (pandanaceae) ini, dapat ditindaklanjuti untuk pelestariannya dari segi ekologis dan ekonomis. Nantinya juga dapat menghasilkan manajemen informasi secara konvensional tentang keanekaragaman jenis pandan (Pandanaceae) untuk pemanfaatannya dan juga meningkatkan pelestariannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Etnobotani
Etnobotani merupakan ilmu botani mengenai pemanfaatan tumbuhan dalam keperluan sehari-hari dan adat suku bangsa. Studi etnobotani tidak hanya mengenai data botani taksonomis saja, tetapi juga menyangkut pengetahuan botani yang bersifat kedaerahan, berupa tinjauan interpretasi dan asosiasi yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan tanaman, serta menyangkut pemanfaatan tanaman tersebut lebih diutamakan untuk kepentingan budaya dan kelestarian sumber daya alam.
Etnobotani adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal-balik secara menyeluruh antara masyarakat lokal dan alam lingkungannya meliputi sistem pengetahuan tentang sumber daya alam tumbuhan. Hutan tropika adaalah salah satu sumber alam hutan yang terluas di dunia yang diharapkan dapat terus berperan sebagai paru-paru dunia yang mampu meredam perubahan iklim global. Sebagian besar hutan ini menghadapi ancaman kritis dari tahun ke tahun yang terus mengalami peningkatan.
Menurut Martin (1998) etnobotani merujuk pada kajian interaksi antara manusia, dengan tumbuhan. Kajian ini merupakan bentuk deskriptif dari pendokumentasian pengetahuan botani tradisional yang dimiliki masyarakat setempat yang meliputi kajian botani, kajian etnofarmakologi, kajian etnoantropologi, kajian etnoekonomi, kajian etnolinguistik dan kajian etnoekologi.

2.2 Deskripsi Pandan (Pandanaceae)
Pandan merupakan tanaman anggota famili Pandanaceae. Terdapat 4 genus yaitu Freycinetia, Pandanus, Sararanga dan Mertellidendron bernaung dibawah famili pandan-pandanan. Tiga genus yang disebut pertama hidup di Indonesia, terutama wilayah timur seperti Papua dan Maluku. Genus yang disebut terakhir hanya ditemukan di Madagaskar dan Seychelles.
Marga Pandanus tercatat memiliki anggota sekitar 700 jenis (Stone, 1982 dan 1983). Di Jawa diperkirakan terdapat 16 jenis (Backer, 1925; Backer dan Bakhuizen v.d. Brink Jr,. 1968). Dari hasil eksplorasi terbaru di Ujung Kulon tercatat empat jenis (Keim et al,. 2006). Dari sekitar 700 jenis tersebut, pandan samak (Pandanus odoratissimus L.f.) adalah jenis yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk berbagai macam keperluan, mulai dari bumbu masak, bahan obat, hingga keperluan keagamaan (Thomson et al,. 2006). Terkait dengan industri kerajinan, Hofstede (1925) melaporkan bahwa awal abad ke-20 kawasan Tangerang merupakan salah satu pusat produksi kerajinan pandan di Indonesia, yang pada saat itu produknya sudah dipasarkan hingga ke mancanegara, seperti Amerika Serikat, Australia, Belanda, Italia, Perancis, dan Singapura.
Genus Pandanus mempunyai keanekaragaman jenis tinggi, yakni kira-kira 700 spesies. Dari jumlah itu, lebih dari 100 spesies di Kalimantan, 20 spesies Maluku. Itulah sebabnya kedudukan Indonesia istimewa karena tingginya biodiversitas pandan sekaligus ditengarai sebagai daerah asal beberapa spesies. Beberapa spesies yang diduga asli Indonesia adalah pandan wangi Pandanus amaryllifolius dan buah merah Pandanus conoideus yang pertama kali ditemukan oleh Georgius Everhardus Rumphius pada tahun 1743.
Jenis-jenis dari marga Pandanus merupakan anggota Pandanaceae yang paling luas persebarannya dan kisaran habitat yang ditempatinya. Tumbuhan tersebut dapat ditemukan mulai dari pantai berpasir hingga hutan dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 3500 m dari permukaan laut; dan mulai dari hutan sekunder dan padang rumput dengan corak ragam tanah mulai dari tanah basah subur berhumus, kapur, rawa gambut hingga tanah berpasir yang relatif kering dan miskin zat-zat hara (Stone, 1982).
Dari ke-4 genus itu total tanaman anggota famili Pandanaceae terdiri dari 909 spesies yang multimanfaat. Kegunaan pandan antara lain sebagai bahan pangan, penyedap masakan, bahan kerajinan, ritual, dan obat tradisional. Di berbagai daerah pandan tak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Masyarakat Halmahera, Kebumen dan Lamongan memanfaatkan daun pandan sebagai bahan baku tikar dan kerajinan lain seperti topi dan tas. Tentu tak semua pandan cocok untuk bahan baku tikar. Jenis yang paling pas adalah Pandanus tectorius, Pandanus dubius, dan Pandanus papuanus. Meski sepanjang tepian daun ketiga spesies itu berduri, tetapi bertekstur lentur dan tak mudah patah.

2.3 Jenis-jenis pandan (Pandanaceae)
1. Sararanga sinuosa
 Nama daerah : Kayari
 Habitat : Pulau Yapen, Papua Barat
 Deskripsi : pohon tumbuh tunggal, tinggi seperti pohon kelapa. Diameter batang bisa mencapai 67 cm tanpa akar tunjang. Daun memanjang seperti pedang dengan panjang 3 m dan lebar 11 cm. Buah berair, bentuknya mirip ginjal, hijau saat muda, dan berubah merah ketika matang. Dalam satu buah terdapat 60 biji. Rasanya asam dan manis ketika matang. Bobot tandan mencapai 10 – 20 kg dengan panjang sekitar 1,5 m. Sebuah pohon menghasilkan 2 – 8 tandan.
 Kegunaan : sebagai bahan baku tikar
 Penemu : Odoardo Beccari, ahli botani kelahiran Italia, lahir 16 November 1843. Ditemukan sekitar 4 – 28 April 1875.
2. Pandanus pseudosyncarpus
 Nama daerah : pandan rambutan
 Habitat : Nabire dan Yapen, Papua Barat
 Deskripsi : bentuk dan warna seperti rambutan Nephelium lapaceum
 Penemu : Ryozo kanehira tahun 1940.
3. Pandanus dubius
 Nama daerah : pandan durian
 Habitat : Yapen, Papua Barat
 Deskripsi : berupa pohon tunggal setinggi 10 – 15 m. biasa tumbuh berkelompok disekitar pantai. Menghasilkan 2 – 5 buah. Buahnya persis buah durian Durio zibethinus. Panjang daun mencapai 93 cm.
 Kegunaan : daunnya untuk memepes ikan, anyaman tikar, dan topi.
4. Pandanus krauelianus
 Nama daerah : Raintui
 Habitat : tepian pantai hingga ketinggian 100 m dpl. Yapen, Papua barat
 Deskripsi : sekilas bentuknya mirip buah merah Pandanus conoides dengan tinggi tanaman sekitar 3 m, berumpun, dan berakar tunjang. Menghasilkan 1 – 3 buah. Daun berbentuk lanceolate alias pedang sepanjang 2,5 m dan lebar 6 – 7 cm.daun berujung runcing dan sepanjang tepian daun berduri.
 Kegunaan : sebagai bahan baku tikar dan beragam wadah untuk perlengkapan sehari-hari
5. Pandanus biakensis, Pandanus papuanus
 Nama daerah : waywin
 Habitat : Biak, Yapen, Papua barat
 Deskripsi : tinggi tanaman sekitar 20 m, keras dan berduri di sepanjang batang. Daun memanjang seperti pedang berwarna hijau terang dipermukaan atas dan hijau kekuningan di permukaan bawah. Buah tunggal sepanjang 37 cm dan berdiameter 67 cm, ketika matang buah berubah warna menjadi kuning.
 Kegunaan : daun sebagai bahan baku tikar dan akarnya sebagai bahan serat untuk tali dan anyaman tas.
 Penemu : St John.
6. Pandanus kaernbachii
 Nama daerah : Kolimu
 Habitat : Kepulauan Bismarck, Papua Nugini Timur. Yapen, Papua barat
 Deskripsi : berupa pohon tunggal, tinggi mencapai 10 m dengan ditopang akar setinggi 2 – 5 m. buahnya bulat. Daun memanjang hingga 2,5 m, berlilin putih
 Kegunaan : bahan baku anyaman tikar
 Penemu : LIPI

2.4 Etnobotani Tanaman (Pandanaceae)
Pandan mempunyai nilai sosial dan ekonomi yang tinggi. Nilai sosial tampak pada adat masyarakat Galela di Halmahera, Maluku Utara. Di sana tikar bukan sekedar alas tidur. Anyaman daun kulewe alias pandan itu menjadi perlengkapan ritual pernikahan. Yang menyerahkan justru mempelai perempuan. Oleh karena itu kaum hawa Galela mesti dapat menganyam daun pandan sebelum menikah.
Dalam berbagai acara ritual, daun pandan juga disertakan. Masyarakat Galela menggunakan daun pandan besar Pandanus papuanus yang dianyam untuk membungkus jenazah. Secara tak langsung mereka juga melakukan konservasi terhadap pandan besar. Sebab, mereka akan berupaya keras untuk menjaga keberadaan tanaman itu.
Penduduk Tidore lazim menggunakan pandan lamo Pandanus amaryllifolius untuk ziarah kubur. Mereka memotong-motong daun pandan beraroma harum sepanjang 40 – 50 cm. Lalu setiap malam jumat mereka menziarahi kubur sembari menabur irisan daun pandan di atas pusara. Karena ritual itu, semua pekarangan rumah masyarakat setempat ditanami pandan lamo alias pandan wangi yang dulu bernam ilmiah Pandanus latifolius.
Tanaman itu juga dimanfaatkan untuk ritual penyambutan tamu. Daun pandan lamo dibuat bentuk segiempat untuk meletakkan sirih dan buah pinang. Pandan wangi sejatinya dapat berbunga, tongkol bunga dapat dikonsumsi. Namun lantaran daunnya terus dipetik, tanaman itu tak sempat berbunga. Selain untuk perlengkapan ritual, daun pandan wangi juga berkhasiat untuk obat. Irisan daun yang diseduh minyak kelapa lazim untuk mengatasi rematik dengan cara menggosok bagian tubuh yang sakit.
Pandan wangi yang juga dikenali sebagai pandan bau atau pandan rampai adalah dari jenis tanaman bersifat saka. Tumbuhan dari keluarga Pandanaceae ini adalah sekeluarga dengan pokok mengkuang. Pokok pandan wangi adalah tanaman yang mudah tumbuh dan dipelihara. Tanaman yang dipercayai berasal dari Bangka, Indonesia ini telah tersebar luas di kawasan tropika Asia Tenggara. Walaupun sudah berabad-abad lamanya tanaman ini berada di negara kita, kebanyakan tanamannya masih terdapat di kebun dapur. Kawasan tanaman secara komersial pula amat terhad.Pandan wangi tumbuh berumpun dan mempunyai daun yang panjang dan meruncing di hujung seperti pedang. Tanaman ini tidak pernah dilaporkan berbunga. Terdapat dua jenis pandan wangi iaitu Pandan wangi besar dan Pandan wangi kecil. Kebanyakan tanaman pandan wangi di negara ini adalah dari jenis Pandan wangi kecil. Ketinggian pertumbuhannya lebih kurang 0.75–1.50 m. Ukuran panjang daun antara 55–75 cm dan lebar di bahagian tengah antara 4–5 cm. Manakala ketinggian Pandan wangi besar pula adalah 3.7–4.3 m, panjang daun lebih kurang 2.3 m dan lebar 9.0 cm (Hidayat, 1995).
Pandan wangi mempunyai berbagai kegunaan dalam penyediaan makanan tradisional terutama di kalangan masyarakat Melayu di negara ini. Ia di gunakan sebagai pewarna, pewangi serta perangsang selera. Kini ekstraknya telah digunakan oleh beberapa syarikat pengeluar roti, kek, biskut dan kuih-muih sebagai pewarna dan perisa asli pandan. Di samping itu, terdapat juga produk seperti minuman kacang soya dan santan kelapa yang berperisa pandan di pasaran. Pandan wangi juga dikatakan mempunyai khasiat perubatan. Bagi kegunaan perubatan pula antaranya adalah untuk merawat penyakit demam campak dan juga dikatakan berkesan bagi mengubati penyakit gonorea, sifillis, denggi dan anaemia.
Pandan wangi bukan satu-satunya spesies pandan berkhasiat obat. Keluarga Pandanaceae sempat sohor sebagai obat beragam penyakit. Namanya buah merah Pandanus conoideus yang mempunyai varietas bentuk hingga 36. Diantara anggota famili Pandanaceae boleh jadi buah merahlah yang paling banyak diteliti dalam aspek farmakologi. Buah merah terbukti mengandung antioksidan tinggi.
Jenis lain yang biasa dimanfaatkan sebagai penawar sakit adalah buro-buro koya alias Pandanus dubius dan kulewe kokoa Pandanus papuanus. Masyarakat Tidore memanfaatkan umbut atau titik tumbuh kedua pandan itu sebagai penawar racun ular, serangga, serta berbagai ikan seperti bulu babi dan pari. Umbut pandan itu dihancurkan dan diborehkan di atas luka sengatan serangga atau gigitan ular.
Akar yang menopang pohon Pandanus dubius dan Pandanus papuanus itu oleh masyarakat Papua dimanfaatkan sebagai bahan serat yang mengkilap dan kuat. Pengambilan akar tak akan mengganggu pertumbuhan pohon. Masyarakat Tabati dan Engros di Teluk Humboldt, Papua, mengolah serat asal akar pandan sebagai bahan jala dan tali pancing. Meski sering terendam dalam air laut, jala itu mampu bertahan hingga 3 tahun.
Faedah lain pandan sebagai pewarna makanan, penyedap, dan aroma makanan. Spesies yang mengemban peran itu pada umumnya adalah pandan wangi dan pandan bambu. Di Minahasa dan Bolaangmongondow dai pandan juga digunakan untuk membungkus beragam camilan (Hidayat, 1995).
Ada pula pandan yang lazim sebagai bahan pangan. Selain buah merah, spesies yang kerap dimanfaatkan untuk bahan makanan adalah pandan kelapa Pandanus brosimos, pandan Pandanus julianetti, dan Pandanus iwen. Buah pandan itu dibakar dan dinikmati seperti kacang. Pada masa silam, pemetikan pandan kelapa kerap menimbulkan konflik antarkelompok bila pemanenannya tak sesuai dengan daerah kekuasaan sebuah kelompok.
Kayari Sararanga sinuosa dan raintui Pandanus kraulianus juga beberapa jenis pandan yang buahnya dapat dikonsumsi. Daging buah pandan Pandanus tectorius bagi masyarakat Halmahera ibarat kacang kenari yang lezat. Selain itu, karena penampilannya yang elok, pandan juga layak sebagai tanaman hias. Spesies anggota genus Freycenetia yang merambat dengan buah merah merona pas menghias teras.
Pandan duri dan bemban (jenis tanaman yg tumbuh di rawa-rawa) adalah jenis tanaman yang banyak ditemukan di kalimantan tengah, khususnya di sekitar desa Banua usang kec. Danau Sembuluh, kab. Seruyan Raya. Kedua tanaman tersebut merupakan tanaman yang sangat berguna sebagai bahan dasar untuk membuat barang-barang fungsional untuk kebutuhan rumah tangga, di antaranya tikar, jalung, bakul, dan lain-lain.
Kemampuan mengayam didapatkan masyarakat setempat secara turun menurun. Adapun motif-motif ini merupakan motif tradisional yang merupakan hasil dari daya cipta si pembuat. Desa Banua Usang bisa dikatakan memiliki ketersediaan sumber bahan baku yang melimpah, ditambah lagi masyarakatnya pun sudah terbiasa menganyam pandan dan bemban. Namun sayang potensi ini belum dapat dioptimalkan secara baik. Aplikasi bentuk produk yang minim inovasi dan sarana transportasi yang bisa dikatakan sulit mungkin menjadi penyebab kurang dioptimalkannya potensi ini.








BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian Etnobotani tanaman pandan (Pandanaceae) dilakukan pada tanggal 27 s/d 29 Mei 2011 di Desa Dumpiagung Kecamatan Kembangbahu kabupaten Lamongan Jawa Timur.

3.2 Alat dan bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Peralatan Tulis dan kamera. Sementara itu bahan yang digunakan adalah sampel tumbuhan Pandan Samak atau Pandan Duri (Pandanus tectorius) dan juga Informan dari masyarakat di desa tersebut baik masyrakat biasa ataupun yang memang sudah menggunakan Pandan sebagai kerajianan.

3.2 Cara Kerja
Penelitian etnobotani pandan di desa Dumpiagung Kecamatan Kembangbahu kabupaten Lamongan Jawa Timur dilakukan dengan cara wawancara open ended dan semi struktural terhadap masyarakat setempat, termasuk pengrajin maupun perusahaan yang mengelola pandan serta pengamatan langsung dilapangan meliputi area budidaya pandan, proses pembuatan kerajinan pandan dan lain-lain. yang berpedoman pada daftar pertanyaan seperti: nama lokal tanaman, bagian yang dimanfaatkan, manfaatnya, cara pemanfaatannya, status tanaman (liar/budidaya) dan lainnya (Supriati & Kasrina, 2003).




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
No. Spesies Bagian yang digunakan Manfaat
1.










2. Pandan Samak / Pandan Duri (Pandanus tectorius)







Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) Daun






Batang

Akar

Daun - Untuk bahan baku kerajianan seperti : Tikar, tas, sandal, box, sapu lidi, ketupat, jekikrek, dll.
- Untuk memasak
(mempermudah nyalanya api)

- Untuk kayu bakar

- Untuk Siwak

- Untuk Pewangi makanan










4.2 Pembahasan
4.2.1 Deskripsi Tempat
Desa Dumpiagung kecamatan kembangbahu adalah salah satu desa di kabupaten Lamongan yang merupakan salah satu tempat sentral produksi kerajinan anyaman di kabupaten Lamongan yaitu anyaman-anyaman yang berasal dari suku pandanaceae, yang biasanya di manfaatkan sebagai tikar, tas sapu dan lain-lain.












Gambar : Peta Poros desa kecamatan Kembang bahu
Kabupaten Lamongan secara geografis terletak 651'54" - 723'06" Lintang Selatan dan 11233'45" - 11233'45" Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Lamongan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gresik, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tuban dan Bojonegoro sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Jombang. Luas wilayah Kabupaten Lamongan 1.812,80 Km2 yang terbagi menjadi dua puluh enam kecamatan dengan Lamongan sebagai ibukota Kabupaten Lamongan.
Kabupaten ini merupakan salah satu penghasil beras terbesar di Jatim. Setiap tahun produksi beras lamongan mencapai rata-rata 441.000 ton. Konsumsi penduduk hanya 36 persen selebihnya dijual keluar daerah antara lain Surabaya, Malang, dan Madura. Peran 10 waduk yang tersebar di lamongan wilayah selatan ini turut memicu peningkatan produksi padi.
Disektor industri, Kabupaten Lamongan sedang mengembangkan industri pengolahan bahan baku ikan di kawasan sebelah utara. Sebagai penghasil ikan laut yang mencapai 38.915 ton, kabupaten yang memiliki bibir pantai sepanjang 47 kilometer ini baru mengolah 30 persen hasil tangkapannya menjadi tepung ikan. Selebihnya industri yang berbahan baku ikan masih terbuka lebar.
Lamongan juga berpredikat sebagai penghasil kapas terbesar di Jatim sekaligus menjadi pusat percontohan budi daya kapas di Indonesia. Tanaman jagung juga merupakan produk unggulan dari Lamongan. Tanaman jagung benih hibrida ini telah mencapai 75 persen dari areal tanaman jagung seluas 48.000 hektar.
Dari sektor perdagangan , berbagai hasil kerajinan, seperti kerajinan kayu, emas, perak, tembikar dan keramik, kulit dan anyam-anyaman tidak hanya mampu menembus Jatim tetapi juga pasar luar negeri.
Lamongan memiliki sejumlah obyek wisata menarik. Di daerah pantai terdapat obyek wisata Monumen Van der Wijck Waduk Gondang Pantai Tanjung Kodok dan Wisata Bahari Lamongan/Jatim Park-2. Goa Maharani terletak di Kecamatan Paciran, di tepi jalur utama pantura, merupakan gua kapur yang sangat indah. Tak jauh dari Gua Maharani, terdapat Makam Sunan Drajat dan Makam Sunan Sendang Duwur, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Kedua makam tersebut memiliki arsitektur yang sangat dipengaruhi oleh Majapahit. Di dekat kompleks makam terdapat Museum Sunan Drajat.

4.2.2 Pengetahuan Masyarakat terhadap Pandan
Wawancara terhadap masyarakat di desa Dumpiagung kecamatan kembangbahu di lakukan kepada 10 orang Informan. Hasil dari wawancara terhadap masyarakat didapatkan data sebagai berikut:
Hasil pengamatan dan wawancara diketahui bahwa pemanfaatan pandan samak di lokasi penelitian yaitu untuk kebutuhan bahan baku anyaman seperti tikar dan keperluan rumah tangga lainnya serta pandan samak juga dapat di gunakan untuk upacara adat. Selain pandan samak masyarakat di desa tersebut juga ada yang menggunakan daun kelapa untuk proses kerajinannya namun di sini kami hanya terfokus pada penggunaan tanaman pandan samaknya saja.
Meskipun dalam sejarah perkembangan manusia, tumbuhan telah memainkan peranan penting dalam perkembangan budaya dan telah mengembangkan sendiri dalam mengadaptasi baik terhadap lingkungan dan keperluan hidup dalam masyarakatnya (Sastrapraja, 1984; Soekarman dan Soedarsono, 1992). Sebagian besar masyarakat mengetahui kegunaan Pandanus tectorius sebagai bahan baku pembuatan kerajinan. Dari data tersebut diatas bahwa penggunaan bahan alami oleh masyarakat masih lumayan tinggi. Hal tersebut disebabkan lokasi tempat tinggal masyarakat yang merupakan sentra kerajinan pandan di kabupaten Lamongan. Sehingga masyarakat yang tinggal di sekitar sentra kerajinan masih menggunakan tikar pandan. Tikar yang digunakan biasanya tidak bercorak. Masyarakat lebih memilih tikar non-corak karena harganya yang lebih murah dibandingkan tikar corak.
Masyarakat yang ditemui, mengungkapkan alasan memilih tikar pandan daripada tikar dari bahan sintetik adalah kenyamanan yang mereka dapatkan saat menggunakannya. Beberapa masyarakat menyatakan bahwa tikar pandan memiliki keunikan, yaitu ketika musim panas, tikar menjadi dingin dan nyaman, begitu sebaliknya, ketika musim dingin, tikar menjadi hangat dan nyaman. Sehingga tikar pandan cocok digunakan sebagai alas untuk beristirahat disegala musim. Masyarakat mulai menggunakan tikar pandan sejak tahun 1980-an.
Selain itu, beberapa anyaman pandan telah dimodifikasi menjadi bentuk lain, yaitu tas, tempat dokumen, tempat telepon genggam, sandal dan sebagainya dengan harga yang cukup mahal. Akan tetapi, menurut masyarakat yang tinggal di daerah sentra kerajinan, mereka tidak menemui kesulitan dalam mendapatkan tikar pandan, sebab mereka dapat membeli secara langsung di sentra kerajinan tersebut.
Dalam kaitan dengan Pandanus tectorius, masyarakat desa Dumpiagung sudah sangat mengenal dengan tanaman tersebut karena tanaman tersebut sangat banyak tersebar di desa tersebut dan juga ada yang di budidayakn di sekitar pekarangan rumah yang dekat dengan perairan.
Menurut Lemmen (1998) Di beberapa daerah, jenis pandan Pandanus tectorius digunakan sebagai bahan baku kerajinan tangan seperti tikar, dan perkakas rumah tangga lain. Diketahui pula bahwa di daerah yang memanfaatkan pandan sebagai kerajinan tersebut, terdapat beberapa lahan budidaya selain lahan liar. Pandanus tectorius yang dibudidayakan, biasanya ditanam di pekarangan rumah, ladang maupun dipersawahan yang sekaligus berfungsi sebagai pembatas atau kepemilikan sawah itu sendiri.
Jati Batoro (2006), dalam penelitiannya menjelaskan bahwa Genus Pandanus yang paling banyak ditemukan. Sedangkan spesies yang keberadaannya paling banyak adalah Pandanus tectorius. Lokasi budidaya pandan umumnya banyak ditemukan di daerah yang terdapat sentra kerajinan. Hal ini dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan baku pandan itu sendiri. Daerah-daerah yang membudidayakan pandan yaitu Lamongan, Nganjuk, Jombang, Trenggalek, dan Malang. Pandanus tectorius terlihat melimpah di Kabupaten Jombang. Hal ini dikarenakan masih banyaknya sentra kerajinan yang berbahan baku pandan di daerah tersebut, sehingga banyak yang membudidayakan. Budidaya pandan di Jawa Timur sekarang ini hanya terbatas pada jenis Pandanus tectorius karena dapat digunakan sebagai bahan mentah kerajinan, sedangkan jenis yang lain belum dibudidaya walaupun Pandanus labyrinthicus di Kabupaten Malang digunakan sebagai tali.
Di daerah selatan Jawa Timur juga banyak ditemukan Pandanaceae, terutama terdapat di daerah pantai bersama dengan komunitas mangrove. Pandan termasuk mangrove monokotiledon yang umum tumbuh di pantai, rawa di dalam barisan rapat mangrove (Mathias,1995). Untuk daerah pantura seperti Tuban, juga masih ditemukan pandan walaupun dalam jumlah yang sedikit. Begitu pula daerah Lamongan dan Gresik. Untuk daerah Lamongan kota masih terdapat sentra kerajinan pandan, meskipun tidak sebanyak di Jombang. Pandan sangat cepat dalam merehabilitasi pantai (Verheij dan Coronel, 1992).

4.2.3 Proses pemanfaatan daun Pandan
A. Poses Pembuatan Bahan Anyaman
Daun muda pandan yang masih lentur dengan panjang 1 m atau lebih diambil untuk bahan anyaman. Bagian ujung dan pangkal daun dipotong. Duri di bagian tepi daun dihilangkan dengan menggunakan alat sabit atau Calok, kemudian daun dibelah memanjang dengan pisau sesuai dengan ukuran lebar yang di butuhkan. Biasanya satu helai daun bisa dibuat menjadi 5-7 suwiran. Daun yang telah dibelah menjadi beberapa tersebut dikenal dengan sebutan suwiran pandan. Lebar suwiran pandan dapat diatur dengan panyoak. Makin sempit lebar suwiran pandan, hasil anyaman semakin halus, kemudian getah atau lendir yang terdapat pada suwiran pandan dihilangkan dengan menggunakan pisau yang lebih kecil atau biasa kita sebut dengan silet sehingga suwiran pandan menjadi lentur dan mudah untuk dianyam.
Setelah suwiran pandan terkumpul sebanyak 1 genggam, lalu diikat, kemudian dijemur atau dikeringkan di sinar matahari atau dengan dianginkan saja juga bisa ketika tidak ada sinar matahari, selanjutnya direbus selama kurang lebih 5 jam. Setelah itu didiamkan atau direndam dalam air dengan tujuan untuk menghilangkan sisa-sisa lendir yang masih menempel pada daun. Suwiran pandan yang telah dimasak, dijemur kembali di bawah sinar matahari selama 2 hari dan hasilnya disebut suwiran pandan putihan. Sebelum dianyam suwiran pandan putihan ini dipukul-pukul perlahan-lahan atau dipaut kembali agar menjadi lemas dan permukaannya halus. Proses awal menganyam disebut ngelabang, dan akhir menganyam disebut ngaput yaitu menutup bagian tepi anyaman. Sebelum dipasarkan, hasil anyaman tikar dijemur kembali agar terlihat lebih segar dan menarik.
Lamanya perebusan dan ukuran suwiran pandan merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi mutu hasil anyaman. Jika pada penjemuran kurang sinar atau cuaca mendung maka hasil anyaman tampak berwarna putih kusam, sedangkan jika perebusan suwiran pandan kurang lama maka suwiran pandan mudah patah pada saat dianyam. Proses menganyam tikar ini juga di gunakan untuk menganyam kerajinan-kerajinan yang lainnya seperti tas, sandal, dan lain-lain.

B. Proses Pembuatan Ketupat Pandan
Proses awal pembuatan ketupat pandan tidak jauh beda dengan proses pembuatan anyaman tikar yaitu Daun muda pandan yang masih lentur dengan panjang 1 m atau lebih diambil untuk bahan anyaman. Bagian ujung dan pangkal daun dipotong. Duri di bagian tepi daun dihilangkan dengan menggunakan alat sabit atau Calok, kemudian daun dibelah memanjang dengan pisau sesuai dengan ukuran lebar yang di butuhkan. Biasanya satu helai daun bisa dibuat menjadi 5-7 suwiran. Namun untuk membuat ketupat biasanya satu helai hanya bisa menjadi 2 Suwiran karena nantinya akan membutuhkan bahan yang lebih besar. Dan pada pembuatan ketupat pandan tidak di perlukan untuk memasak daun pandan akan tetapi cukup dengan menjemur saja karena bahan yang dibutuhkan adalah bahan yang tidak terlalu lunak agar ketupat dapat terbentuk dengan baik dan kuat untuk diisi dengan beras nantinya.
Setelah beberapa suwiran sudah siap untuk digunakan maka proses selanjutnya adalah proses pembentukan ketupat yang sangat unik baik di bentuk persegi seperti pada umumnya ataupun di bentuk dengan motif-motif hewan agar nampak lebih indah dan menarik yang biasanya di sebut oleh penduduk dengan istilah Jekikrek. Pembuatan jekikrek ini memang sangat sulit dan membutuhkan keahlian sehingga tidak semua penduduk dapat membuat kerajinan jekikrek tersebut. Setelah sudah terberbentuk bentukan yang diinginkan kemudian diisi dengan beras dan dimasak selama kurang lebih 4-5 jam untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

C. Proses Pembuatan Sapu Lidi
Untuk proses pembuatan sapu lidi yaitu dengan cara memanfaatkan kayu atau bagian dari tulang helaian daun yang telah di sayat atau di gunakan sebagai bahan anyaman ataupun ketupat, yang kemudian di bersihkan lagi dari sisa-sisa daun yang kurang bersih yang masih menempel pada kayu. Kemudian setelah bersih kayu tersebut di jemur dan di potong pada bagian ujungnya yang terlalu lemas agar lebih kaku dan juga tidak terlalu panjang. Setelah itu kemudian dijemur sampai benar-benar kering dan diikat. Biasanya ikatan sapu lidi yaitu sebesar genggaman tangan agar ketika digunakan pas dengan ukuran tangan yang menggunakan.
Sapu lidi yang sudah selesai dibuat biasanya di biarkan dan akan ada pedagang dari luar desa bahkan dari luar kota yang datang untuk membeli dan memperdagangan hasil karya dari penduduk di desa tersebut.









BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di , maka dapt disimpulkan bahwa :
1. Masyarakat di desa Dumpiagung sudah sangat mengenal dengan tanaman pandan karena tanaman tersebut sangat banyak tersebar di desa tersebut dan juga ada yang di budidayakn di sekitar pekarangan rumah yang dekat dengan perairan.
2. Jenis tanaman pan dan yang biasa digunakan oleh masyarakat di desa Dumpiagung adalah jenis Pandan samak atau pandan duri (Pandanus tectorius) dan Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius).
3. Masyarakat Desa Dumpiagung Kecamatan Kembangbahu kabupaten Lamongan Jawa Timur memanfaatkan daun pandan samak atau pandan duri (Pandanus tectorius) untuk pembuatan aneka kebutuhan rumah tangga, seperti tikar, tas, sandal, sapu dan juga ketupat atau jekikrek pandan dan bahan bakar serta Siwak. Dan Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) digunakan sebagai pewangi makanan.
4. Perlu adanya penyuluhan tentang teknik menganyam dan penerapan model (design) dan tata warna yang lebih bervariasi guna meningkatkan nilai jual tikar samak masyarakat Desa Dumpiagung Kecamatan Kembangbahu kabupaten Lamongan Jawa Timur. Peningkatan nilai jual diharapkan akan meningkatkan volume penjualan dan pada akhirnya akan menarik lebih banyak keterlibatan anggota masyarakat dalam industri kerajinan tersebut serta akhirnya akan melestarikan tradisi kerajinan daun pandan di Kabupaten Lamongan.



DAFTAR PUSTAKA
Batoro, J. 2004. Erosi Apresiasi Masyarakat Kota dan Kabupaten Malang terhadap Pandan (Pandanaceae). Laporan Akhir DPP/SPP. Lembaga Penelitian Universitas Brawijaya. Malang
Hidayat, E.B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB. Bandung. 275 halaman. Hyene, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid I. Terjemahan Badan Litbang Kehutanan. Badan
Litbang Kehutanan. Jakarta Lemmen, R.H.M.J. 1998. Plant Resources of South East Asia. Wageningen. Netherland. Mathias, M.E. 1995. World Vegetation.
Polunin, N., 1960. Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu Serumpun. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Sastrapradja, S. 1984. Keanekaragaman Hayati Untuk Kelangsungan Hidup bangsa. Pusat dan Pengembangan Bioteknologi LIPI. Bogor
Silveira, A. 2006. Etnobotany. www. aultimaarcadenoe. com. Tanggal akses 20 Juni 2011. Pukul 20.13 WIB.
Soekarman dan Soedarsono. R. 1992. Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani di Indonesia, LIPI. Bogor.
Stringer, R., P.Johnston, B.Erry. 2001. Toxic Chemicals In A Child’s World : An Investigation Into PVC Plastic Products. http : // eu. Greenpeace. Org / downloads / chem. / childworldpvcproducts. Pdf. Tanggal akses 22 September 2006. Pukul 20.01 WIB.
Sudardadi, H. 1996. Tumbuhan Monokotil. Penebar Swadaya. Jakarta. 133 halaman. Tjitrosoepomo, G. 1998. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Gadjah mada University Press.
Yogyakarta. Verheij, E. W. M. Dan R. E. Coronel. 1992. Prosea Plant Resources Of South-East Asia 2 Edible.
LAMPIRAN GAMBAR
Pandan samak
Pandan Wangi Buah pandan

Akar
Daun pandan berduri
Daun pandan wangi

Penyuwiran
Suwiran Tikar

Sapu Lidi
Sandal
Ketupat

Perusahaan Tikar Desa Dumpiagung
Pembuatan Tas Pandan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar